Lompat ke isi utama

Berita

Bincang Santai di Pesantren, Bawaslu Tegal Kupas Akar Masalah Demokrasi: Karakter Bangsa Jadi Kunci Masa Depan Indonesia

Bincang Santai di Pesantren, Bawaslu Tegal Kupas Akar Masalah Demokrasi: Karakter Bangsa Jadi Kunci Masa Depan Indonesia

Bincang Santai di Pesantren, Bawaslu Tegal Kupas Akar Masalah Demokrasi: Karakter Bangsa Jadi Kunci Masa Depan Indonesia

Balapulang - Kabupaten Tegal – Bawaslu Kabupaten Tegal terus memperkuat upaya pendidikan demokrasi kepada masyarakat melalui pendekatan dialog yang humanis dan berbasis nilai kebangsaan. Kali ini, Bawaslu Kabupaten Tegal menggelar diskusi konsolidasi demokrasi bersama tokoh masyarakat di Pondok Pesantren Kali Dharma, Pamiritan, Kecamatan Balapulang, Minggu (12/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Tegal, Dedi Kusdiyanto, yang berdialog langsung dengan Adam, seorang terapis pengobatan tradisional sekaligus narasumber dalam diskusi. Pertemuan membahas berbagai tantangan demokrasi, mulai dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap politik hingga pentingnya membangun karakter bangsa sebagai fondasi kehidupan demokrasi.

Dalam dialog tersebut, Adam menilai bahwa salah satu persoalan mendasar demokrasi saat ini adalah bergesernya cara masyarakat menentukan pilihan politik. Menurutnya, demokrasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh proses pemungutan suara, tetapi juga oleh kualitas karakter dan kesadaran warga negara dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter (character building) merupakan fondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang mampu berpartisipasi secara cerdas, bertanggung jawab, dan berintegritas dalam kehidupan demokrasi. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan cita-cita yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa dan perlu terus diperkuat di tengah perkembangan zaman.

Diskusi juga mengangkat pentingnya penguatan ideologi kebangsaan sebagai benteng menghadapi berbagai tantangan, seperti pengaruh negatif globalisasi, polarisasi politik, penyebaran informasi yang menyesatkan, hingga lunturnya semangat persatuan di tengah masyarakat.

Adam menegaskan bahwa pembentukan karakter generasi muda tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi kepada generasi penerus.

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kabupaten Tegal, Dedi Kusdiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan konsolidasi demokrasi merupakan bagian dari komitmen Bawaslu untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya pada masa non-tahapan pemilu. Melalui dialog langsung, Bawaslu berupaya membangun kesadaran publik bahwa demokrasi tidak hanya berkaitan dengan momentum pemilihan, tetapi juga tentang pembentukan karakter warga negara yang kritis, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan.

Menurutnya, penguatan pendidikan demokrasi menjadi investasi jangka panjang untuk melahirkan masyarakat yang mampu menjaga kualitas pemilu sekaligus memperkuat kehidupan demokrasi di Indonesia.

Melalui forum-forum diskusi seperti ini, Bawaslu Kabupaten Tegal berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pendidikan karakter, ideologi kebangsaan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi. Dengan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, demokrasi yang sehat, berkualitas, dan berintegritas diyakini dapat terus terwujud.