Membangun Karakter Pengawas Pemilu Partisipatif (bagian akhir)
|
Slawi,21 Agustus 2025- Yang harus dimiliki oleh seorang pengawas pemilu partisipatif yaitu jiwa kesukarelawanan, dalam pembangunan karakter tentu kita sebagai individu tergerak untuk melakukan perubahan dalam membentuk karakter pribadi tanpa iming-iming dan paksaan. Sehingga dengan menumbuhkan sikap kesukarelawanan dapat membentuk watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian dan akhlak dengan mudah karena berasal dari kemauan individu itu sendiri. Kerelawanan yang didasarkan tanpa pamrih akan menghasilkan pengawasan sepenuh hati. Upaya ini merupakan langkah menghentikan pelanggaran dan kecurangan. Pada sisi lain merupakan langkah mulia untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya yang sudah tercemar oleh materialisme dan hedonisme. Maka kesukarelawanan yang sebenarnya perlu dimiliki oleh para relawan pengawas. Memiliki jiwa sosial dan pengabdian kepada masyarakat yang tinggi. Selanjutnya para relawan pengawas harus memiliki integritas dan perilaku baik selama bertugas dengan patuh pada kode etik: menjunjung tinggi Pancasila, UUD 1945, dan nilai-nilai demokrasi, tidak berpihak, profesional, antikekerasan, menjunjung tinggi jalur hukum, sukarela, jujur, objektif, dapat bekerja sama, transparan, rendah hati, menghormati masyarakat dan nilai-nilai setempat, mengutamakan pelayanan kepada masyarakat, dan tidak memberikan janji apalagi sampai meminta pelayanan dari masyarakat. Tentu semua perilaku tersebut menunjukan independensi relawan dalam pelaksanaan pemilu. Maka dalam berbagai aktivitas pengawasan pemilu, sikap kesukarelawanan dianggap penting dalam mengembangkan partisipasi masyarakat, antara lain: 1. Kesukarelawanan menghasilkan suatu cara masyarakat berpartisipasi untuk dapat berkumpul dan membuat suatu perubahan melalui tindakan nyata. 2. Tindakan kesukarelawanan yang dilakukan bersama-sama dapat membantu membangun “kepercayaan” diantara para relawan. 3. Bekerja bersama juga membantu menjembatani berbagai perbedaan menuju “rasa percaya” dan “penghormatan” antar individu yang mungkin belum pernah bertemu sebelumnya. 4. Secara alamiah sikap kesukarelawanan kolektif berkontribusi pada pengembangan sosial dari masyarakat yang justru akan terus memperkuat kegiatan-kegiatan kerelawanan mereka.