Bawaslu Kabupaten Tegal Latih Pemilih Pemula SMK Muhammadiyah Slawi Tangkal Hoaks Lewat Gim Interaktif
|
SLAWI – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Tegal menggelar kegiatan Konsolidasi Demokrasi bagi pemilih pemula di SMK Muhammadiyah Slawi. Berbeda dari sosialisasi formal pada umumnya, Bawaslu mengemas edukasi literasi digital ini secara interaktif melalui permainan Tebak Gambar untuk melatih daya kritis pelajar dalam memilah informasi di media sosial.
Anggota Bawaslu Kabupaten Tegal sekaligus fasilitator kegiatan, Farid Bani Adam, menyampaikan bahwa fokus utama materi kali ini menyasar pada identifikasi, dampak, serta langkah mitigasi penyebaran berita bohong (hoax) menjelang pesta demokrasi.
"Pendekatan lewat permainan tebak gambar ini sengaja dirancang agar suasana lebih cair. Kami ingin materi hukum dan pengawasan Pemilu yang terkesan kaku bisa diserap dengan mudah oleh generasi Z," ujar Farid.
Dalam teknis pelaksanaannya, para siswa disajikan beragam visualisasi berupa potongan informasi, infografis, hingga meme yang marak beredar di media sosial. Siswa kemudian diminta menganalisis dan menebak apakah narasi di balik gambar tersebut tergolong fakta atau hoaks. Setelah itu, fasilitator melakukan bedah logika untuk membedakan mana informasi yang shahih dan mana hasil manipulasi, seperti foto editan kasar, narasi provokatif, hingga ketiadaan sumber resmi.
Tak sekadar menebak, Farid juga menyisipkan dua langkah konkret pencegahan disinformasi sebagai etika utama bermedia sosial:
Cek Fakta (Fact-Checking): Siswa dibekali keterampilan memverifikasi kebenaran berita atau gambar menggunakan fitur pencarian gambar terbalik (Google Reverse Image) dan platform cek fakta resmi.
Saring Sebelum Sharing: Penekanan pada pentingnya menahan diri sebelum membagikan ulang sebuah unggahan guna memutus mata rantai penyebaran hoaks di ruang digital.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari para siswa. Lewat simulasi tersebut, pelajar SMK Muhammadiyah Slawi kini memiliki bekal dasar untuk membedakan opini manipulatif, hoaks, dan fakta penyiaran.
Melihat keberhasilan metode ini, Bawaslu Kabupaten Tegal direkomendasikan untuk mereplikasi penggunaan metode gamifikasi serupa ke sekolah-sekolah lain di wilayah Tegal demi pemerataan kualitas literasi digital pemilih pemula. Selain itu, sekolah dan Bawaslu dapat berkolaborasi mendorong siswa memproduksi konten kreatif anti-hoaks berbasis video pendek di media sosial.