Bawaslu Kabupaten Tegal Gelar Diskusi Konsolidasi Demokrasi Bahas Pendidikan dan Generasi Muda
|
Slawi - Bawaslu Kabupaten Tegal kembali menggelar kegiatan konsolidasi demokrasi melalui ruang podcast sebagai upaya memperkuat partisipasi masyarakat di luar tahapan pemilu. Diskusi bertajuk “Merawat Demokrasi dari Akar: Kesadaran, Generasi, dan Kebudayaan” tersebut dilaksanakan di Ruang Podcast Bawaslu Kabupaten Tegal pada Kamis, 30 April 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Bawaslu dalam memetakan isu sosial di masyarakat sekaligus memperkuat demokrasi substantif melalui pendekatan dialogis bersama masyarakat sipil. Diskusi dipandu oleh Dedi Kusdiyanto, S.T., selaku Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu Kabupaten Tegal, dengan menghadirkan Nurhisom, pendamping dan guru PKBM Nurul Huda Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.
Dalam diskusi tersebut, Nurhisom menyoroti bahwa demokrasi saat ini masih cenderung dipahami sebatas prosedur lima tahunan melalui pemilu. Menurutnya, demokrasi sejatinya harus hadir dalam kehidupan sosial sehari-hari melalui kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif mengawal kebijakan publik dan memperjuangkan hak-hak dasar rakyat.
Pembahasan kemudian berkembang pada isu pendidikan dan kondisi generasi muda. Nurhisom menilai sistem pendidikan formal saat ini masih terlalu menitikberatkan pada kemampuan akademik, sementara pembentukan karakter, kesadaran sosial, dan penguatan kearifan lokal belum mendapatkan ruang yang memadai. Ia juga menyoroti minimnya ruang tumbuh yang sehat bagi generasi muda yang dinilai menjadi salah satu faktor munculnya berbagai persoalan sosial seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat-obatan, hingga krisis identitas anak muda.
Melalui pengalaman pendidikan alternatif di PKBM Nurul Huda, Nurhisom menjelaskan bahwa peserta didik diberikan ruang untuk menentukan kebutuhan belajar sesuai minat dan potensi masing-masing. Berbagai kelas seperti musik, fotografi, tata boga, futsal, dan literasi dibentuk sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih membebaskan dan memanusiakan peserta didik.
Diskusi juga menyinggung bonus demografi yang dimiliki Indonesia, khususnya Kabupaten Tegal. Menurut pandangan yang berkembang dalam diskusi, bonus demografi dapat menjadi kekuatan besar apabila generasi muda mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan ruang sosial yang sehat. Namun sebaliknya, apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai persoalan sosial di masa mendatang.
Selain itu, pentingnya peran masyarakat sipil sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah turut menjadi salah satu poin utama pembahasan. Ruang-ruang diskusi publik dan pendidikan kritis dinilai perlu terus diperkuat guna menjaga demokrasi tetap sehat dan berpihak pada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Tegal berharap konsolidasi demokrasi tidak hanya dipahami dalam konteks elektoral, tetapi juga sebagai upaya membangun manusia yang sadar, berdaya, dan aktif dalam kehidupan sosial serta kebangsaan.