Ramadan Jadi Momentum Introspeksi Demokrasi, Sri Anjarwati Ajak Masyarakat Jadi Pemilih Cerdas dan Pengawas Hebat
|
Tegal - Program Ngabuburit Pengawasan yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Tegal kembali menghadirkan kajian inspiratif menjelang waktu berbuka puasa. Pada Selasa, 10 Maret 2026, Sri Anjarwati, M.Kom mengisi kultum yang disiarkan melalui kanal YouTube Bawaslu Kabupaten Tegal dengan tema “Ramadhan Catch-Up: Jadi Pemilih Cerdas, Jadi Pengawas Hebat.”
Dalam kultumnya, Sri Anjarwati menyampaikan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum untuk melakukan refleksi diri, tidak hanya dalam kehidupan pribadi tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan berdemokrasi. Menurutnya, demokrasi bukan sekadar kegiatan mencoblos saat pemilu, melainkan amanah yang harus dijaga bersama oleh seluruh masyarakat.
Anjar menjelaskan bahwa memilih pemimpin merupakan bentuk tanggung jawab moral yang harus dilakukan dengan bijak. Karena itu, masyarakat diharapkan menjadi pemilih cerdas, yakni memilih berdasarkan informasi yang benar, mempertimbangkan rekam jejak kandidat, serta mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Selain itu, Sri Anjarwati juga mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap informasi yang beredar di era digital. Masyarakat perlu melakukan tabayyun atau verifikasi informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, ujaran kebencian, maupun provokasi yang dapat merusak kualitas demokrasi.
Dalam kesempatan tersebut, Anjar juga menekankan bahwa pengawasan demokrasi tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga resmi, tetapi juga masyarakat. Setiap warga negara memiliki peran untuk memastikan proses demokrasi berjalan jujur dan adil.
“Pengawas hebat bukan berarti mencari-cari kesalahan, tetapi memastikan proses berjalan dengan integritas. Jika melihat kecurangan atau politik uang, masyarakat harus berani menolak dan tidak membiarkan ketidakadilan terjadi,” jelasnya.
Anjar juga mengingatkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadan, seperti kejujuran, pengendalian diri, dan kepedulian sosial, seharusnya tercermin dalam sikap politik masyarakat, termasuk menolak praktik politik uang serta menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan.
Menutup kultumnya, Sri Anjarwati mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki kualitas partisipasi dalam demokrasi. Dengan menjadi pemilih yang rasional dan pengawas yang berintegritas, masyarakat dapat berkontribusi dalam mewujudkan demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat.
“Demokrasi yang berkualitas sangat ditentukan oleh kualitas moral warganya. Jika pemilihnya cerdas dan masyarakatnya berintegritas, maka kekuasaan akan lebih berhati-hati dalam menjalankan amanah,” pungkasnya.